Fajar

  Breaking News

Ektremisme Kekerasan

Opini - 15 Mei 2018, 10:30:12

Imam Shamsi Ali*

Dalam sepekan ini, Indonesia digoncang oleh beberapa peristiwa kekerasan, termasuk bom bunuh diri di beberapa tempat di Surabaya. Sebelumnya, juga terjadi serangan teror di Mako Brimob Jakarta. Serangan-serangan tersebut telah menelan korban puluhan jiwa, meninggal dan luka-luka.

Peristiwa-peristiwa ini tentunya sangat memprihatinkan, bahkan mencoreng wajah Indonesia yang dikenal aman, damai dan toleran. Peristiwa kekerasan di Brimob bahkan terjadi hanya sehari sebelum Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan segitiga (trilateral meeting) ulama-ulama Afghanistan, Pakistan dan Indonesia di Istana Bogor, untuk membicarakan perdamaian dan stabilitas di Afghanistan.

Oleh karenanya serangan terror tersebut sangat menyedihkan dan sekaligus memalukan bangsa dan negara Indonesia. Maka sangat sepatutnya kita semua mendeklarasikan bahwa tindakan kekerasan seperti itu bukan Indonesia, dan bukan pula untuk tujuan kebaikan apapun, sekaligus musuh bersama bangsa.

Pastinya tindakan biadab itu tidak mendapat tempat di mana saja, dan tidak akan terjustifikasi oleh apapun. Tidak oleh pertimbangan umum manusia (common sense) maupun ajaran agama (religious guidance). Sebaliknya tindakan teror tidak mengenal kemanusiaan dan tidak mengenal agama. Bahkan musuh sekaligus perusak agama.

Faktor-faktor extremisme

Jika diselami lebih jauh akan didapati bahwa tendensi ekstremisme dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain sebagai berikut:

Pertama, kebodohan dalam beragama. Jangan pernah berpikir bahwa pelaku teror adalah orang-orang berilmu, apalagi dalam ilmu agama. Sebaliknya mereka pada umumnya adalah orang-orang yang tidak paham agama, bahkan jauh dari agama. Pelaku teror pada peristiwa 9/11 di Amerika Serikat ditemukan di kemudian hari adalah orang-orang yang tidak beragama, bahkan peminum dan womanizer.

Kedua, kurang rasionalitas, pikiran sempit dan dominannya emosi. Orang-orang seperti ini kerap kali mengedepankan amarah dalam merespon berbagai permasalahan hidupnya. Tindakan yang dilakukan dominannya terbangun di atas emosi yang tinggi, tanpa pertimbangan rasional, dan kerap kali mengambil jalan pintas.

Ketiga, respon terhadap ketidak adilan sosial. Kekerasan-kekerasan juga sering kali terjadi karena adanya ketidak adilan atau kezholiman di masyarakat. Ketika mereka merasa bahwa jalan untuk menemukan Keadilan itu buntu (stuck) maka di sinilah mereka akan mengambil jalan pintas, tanpa memikirkan konsekwensi atau akibatnya.

Keempat, misinformasi atau informasi yang tidak menyeluruh. Di sini peran media sangat besar dalam membangun kemarahan itu. Media seringkali tidak bertanggung jawab, bahkan demi meraup keuntungan material mereka rela menjual informasi-informasi yang menyesatkan dan berbahaya. Apalagi dalam dunia keterbukaan media, khususnya media sosial.

Kelima, faktor ekonomi dan kejiwaan. Tidak jarang juga tindakan teror termotivasi oleh faktor ekonomi atau kemiskinan. Ketika manusia lapar maka sering rasa kemanusiaannya (sense of humanity) menjadi hilang. Maka tindakan yang mereka ambil menjadi animalistik, bagaikan anjing-anjing yang kelaparan.

Keenam, dorongan untuk menjadi pahlawan membela kebenaran. Nampak seperti positif. Tapi sesungguhnya sebuah tindakan yang tidak mendapat pembenaran, apalagi dalam agama, adalah salah. Motivasi atau niat yang baik wajib dilaksanakan melalui cara yang baik dan benar. Keinginan berhaji tidak dapat dilakukan dengan jalan merampok. Mencari Keadilan tidak bisa dilakukan dengan melakukan pembunuhan orang-orang yang tiada dosa.

Mati di jalan Allah atau mati syahid

Seringkali juga kita dengarkan bahwa mereka yang melakukan tindakan teror itu dan mati dianggap mati di jalan Allah (fii sabilillah). Orang yang mati di jalan Allah ini juga dikenal sebagai “mati syahid”.

Sepintas dengan doktrin-doktrin murahan yang menyesatkan ini nampak seperti kebenaran. Sebab memang mati di jalan Allah itu sesuatu yang mulia. Syahid di jalan Allah itu sudah pasti balasannya adalah syurga.

Tapi bagaimanakah konsep mati di jalan Allah atau syahid? Apakah dengan melakukan pembunuhan dan tindakan teror kepada warga sipil dan orang-orang tak berdosa bisa dikategorikan “mati di jalan Allah” atau “syahid?”.

Jawabannya pasti TIDAK! Mati di jalan bukan konsep dadakan, apalagi konsep yang dilakukan dengan cara biadab dan terkutuk. Mati di jalan Allah itu akan terjadi ketika hidup seseorang juga ada di jalan Allah. Syahid itu hanya akan diperoleh ketika didahului dengan mempersaksikan kebenaran dalam hidup kita.

Mempersaksikan kebenaran itu adalah melakukan ajaran secara konsekwensi. Yaitu dengan menegakkan tauhid dan ubudiyah yang benar, diikuti oleh prilaku sosial yang baik. Inilah hidup yang mempersaksikan kebenaran (syhahadah). Dan kehidupan yang seperti inilah pada akhirnya jika berakhir, berakhir di jalan Allah dan menemukan “syahadah” (mati syahid).

Karenanya tindakan teror sungguh tindakan syetan, dan matinya pasti di jalan syetan. Membunuh warga sipil (non combatant) dalam keadaan perang saja dilarang. Apalagi dalam keadaan damai, dan lebih khusus lagi di rumah-rumah ibadah siapa saja, jelas keharamannya dalam Islam.

Karena itu, konsep mati di jalan Allah yang dijanji dengan syurga itu harus dibenarkan. Konsep ini adalah proses hidup hingga akhir. Mati di jalan Allah harus didahului oleh “hidup di jalanNya”. Jika didahului oleh pembunuhan dan pengrusakan, apalagi dengan membunuh orang-orang yang tak berdosa, jelas bukan mati di jalan Allah yang dijanjikan syurga. Tapi mati di jalan syetan yang berakhir di neraka.

Ini juga tentunya terkait dengan konsep jihad yang semakin disalah pahami. Jihad menjadi gandengan untuk memburu kepentingan, bahkan kepentingan sesaat dan parsial.

Tegasnya, jihad yang melibatkan persenjataan hanya terjadi ketika ada peperangan. Dan peperangan dalam sebuah tatanan negara hanya boleh dikomandankan (diinstruksikan) oleh Panglima tertinggi, presiden dalam konteks Indonesia.

Selebihnya jihad yang harus ditegakkan adalah jihad-jihad dalam bentuk membangun kepribadian, keluarga dan masyarakat yang lebih baik. Jihad itu adalah perjuangan untuk membangun kehidupan dan peradaban. Bukan merusak kehidupan dan peradaban. Sementara teror adalah sebaliknya. Merusak kehidupan dan memporak porandakan peradaban.

Merespons teror

Teror itu kejahatan (evil) yang harus kita perangi bersama. Teror harus dijadikan musuh bersama (common enemy) dan musuh peradaban manusia, bahkan musuh agama dan semua nilai-nilai kebaikan yang ada.

Oleh karenanya harus dihadapi dan direspon secara sungguh-sungguh dan sepenuh hati. Tidak setengah hati, apalagi dijadikan sekedar lompatan untuk tujuan yang kadang sama jahatnya, bahkan lebih jahat.

Sejak terjadinya serangan teror di Amerika yang dikenal dengan 9/1 di tahun 2001 yang lalu, gendang peperangan kepada teror (war on terror) telah ditabuh. Dimulai dengan serangan ke Afghanistan oleh Amerika dan sekutunya, yang diikuti oleh berbagai peperangan baik secara internasional, nasional maupun lokal.

Masalahnya kemudian peperangan kepada teror ini tidak jarang tergandengi oleh kepentingan dan motif-motif jahat yang tidak kurang, bahkan lebih jahat dari teror itu sendiri. Peperangan kepada teror biasanya tergandengi oleh kepentingan-kepentingan kapitalisme, yang cenderung menghalalkan segala cara. Akibatnya beribu-ribu orang tak berdosa, khususnya anak-anak dan wanita terbunuh demi memburu kepentingan itu. Dan semua itu atas nama memerangi terorisme internasional.

Kembali kepada peristiwa-peristiwa Mutakhir di Indonesia, sekedar diingatkan bahwa jangan sampai juga tergandengi oleh kepentingan-kepentingan tertentu. Atas nama memerangi terorisme tapi yang terjadi adalah menarget pihak-pihak tertentu untuk kepentingan tertentu pula. Termasuk di dalamnya kepentingan politik, khususnya di musim politik ini.

Tentu diingatkan pula bahwa jangan juga peristiwa teror ini lalu dengan cara apapun dijadikan alat untuk menuduh pihak tertentu. Pengalaman mengatakan bahwa zaman kini yang paling sering tertuduh adalah umat Islam. Padahal kalaupun yang melakukan kejahatan itu beragama Islam, apakah secara otomatis umat harus dicurigai dan bertanggung jawab?

Tanggung jawab bersama

Fenomena ini (teror) sekali adalah musuh bersama (common enemy). Dan karenanya cara terbaik untuk merespon adalah dengan melibatkan semua unsur segmen masyarakat. Pemerintah, tokoh agama, pendidik, senimam, bahkan orang tua, semuanya memiliki tanggung jawab untuk melakukan apa saja agar kejahatan ini tidak membesar dan melebar.

Jangan sampai peristiwa ini dipakai oleh pihak tertentu untuk semakin memperlebar saling mencurigai, permusuhan dan perpecahan baik antara masyarakat dan pemerintah maupun antar masyarakat sendiri.

Dalam upaya menyelesaikan permasalahan ini jangan sampai ada yang dirangkul, seolah pahlawan, tapi sebagian yang lain dicurigai bahkan dipandang musuh. Ini sangat berbahaya karena bisa menjadi pemicu penyebab teror seperti yang disebutkan tadi.

Semua pihak harusnya menjadikan semua ini sebagai peringatan. Untuk pemerintah boleh jadi kejahatan ini karena adanya sesuatu yang tidak beres dengan “sense of justice” di masyarakat. Keamanan dan Keadilan sosial erat kaitannya. Dalam bahasa Al-Quran “al-khauf” (ketidak amanan) dan “al-Juu” (kelaparan/kemiskinan) sangat erat kaitannya.

Untuk ulama dan tokoh agama peristiwa ini harus dijadikan peringatan bahwa ternyata masih ada paham-paham agama yang salah, dan menjadi kewajiban para ulama untuk meluruskannya.

Demikian seterusnya, untuk pendidik, pebisnis semuanya harus menjadikannya sebabai peringatan keras untuk mengambil bagian dalam usaha menangkal kecenderungan ini.

Khusus kepada orang tua, adalah tanggung jawab besar di atas pundak mereka untuk menanamkan nilai-nilai “kasih sayang” sedini mungkin dalam diri generasi. Banyak anak-anak yang tumbuh besar dalam kemarahan karena kesalahan orang tua.

Akhirnya, demikian pula kepada masing-masing golongan dalam masyarakat. Keragaman itu adalah berkah. Tapi gagal mengelolah keragaman boleh jadi membawa musibah. Satu hal yang krusial dalam mengelolah keragaman ini adalah dengan menumbuh suburkan “saling memahami” dan “saling menghormati”. Bahkan memangun kerjasama di tengah keragaman itu demi terwujudnya “common interest” (kepentingan bersama) yang lebih besar.

Dan adakah lagi kepentingan yang lebih besar dalam konteks keindoneisaan dari pada terwujudnya kesatuan, keadilan, keamanan dan kesejahteraan nasional kita? Dengan bersama-sama menjaga keamanan akan terwujud negara yang “baldatun thoyyibatun wa Rabbib Ghafuur”. Insya Allah!

Makassar - JKT, 14 Mei 2018

*Presiden Nusantara Foundation


SETIAP ORANG PUNYA CERITA.
Langganan Anda Membantu Jurnalisme Berkualitas

Media cetak bacaan terbaik hindari berita hoax. Untuk mengakses berita cetak, silahkan langganan premium epaper FAJAR disini epaper.fajaronline.co.id Kami kirimkan Anda koran secara gratis. (Syarat dan ketentuan berlaku). hubungi wa/tlp 085242899926 atau 0811462222

Author : Muhammad Nursam

Berita Lainnya

🔀Berita Terkini
 

Di Daerah Terpencil, Bilik Suara Aluminium Tetap Dipakai

FAJARONLINE.CO.ID, MAKASSAR-Bilik suara aluminium bekas Pemilihan Gubernur dan wakil Gubernur (Pilgub) Sulsel tetap akan digunakan pada pencoblosan...
 

Jaga Generasi Kesenian, Teater Kampus Unhas Terima Anggota Baru

FAJARONLINE.CO.ID, MAKASSAR--Menjaga generasi lembaga, Unit Kegiatan Mahasiswa Teater Kampus Unhas (UKM-TKU) menerima anggota baru. TKU pun membuka...
 

Meningkatkan Kualitas Daging Sapi Ala Jepang

 Produksi ternak lokal Indonesia masih jauh dari harapan untuk mampu memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri. Padahal ternak lokal...
 

Lawan Bali United, Robert Trauma Insiden Musim Lalu

FAJARONLINE.CO.ID, MAKASSAR -- Pelatih PSM, Robert Alberts masih teringat kekalahan timnya melawan Bali United di Stadion Andi Mattalatta musim lalu....
 

Menuju Reuni Akbar 2019, PAS Supama Kemas Event

  FAJARONLINE.CO,ID,MAKASSAR--Pengurus Persaudaraan Alumni Smakara wilayah Sulawesi, Papua, dan Maluku (PAS Supama) bakal mengadakan...
 

Segitu Perhatiannya Netizen, Tagar Save Gempi Trending Topik di Twitter

FAJARONLINE.CO.ID, MAKASSAR -  Perceraian pasangan selebritis Gisella Anastasia dan Gading Marten masih mengejutkan banyak orang. Khususnya di...
 

Pangkep Target Panen 141 Ribu Ton Gabah

FAJARONLINE.CO.ID, PANGKEP - Mappalili atau tradisi turun sawah merupakan agenda tahunan yang digelar pihak kerajaan dan pemerintah yang ada di...
 

Prabowo Dicap Sebagai Pendukung ISIS

FAJARONLINE.CO.ID -- Calon Presiden (Capres) Prabowo Subianto mengkritisi perjalanan demokrasi di Indonesia akhir-akhir ini. Ketua umum Gerindra itu...
 

Filipina 1-1 Thailand, Indonesia Tersingkir di Piala AFF 2018

FAJARONLINE.CO.ID, MANILA—Indonesia dipastikan gagal melaju ke semifinal Piala AFF 2018. Itu setelah Filipina bermain imbang 1-1 kontra...
 

Nurdin Abdullah Janji Produksi Padi di Sidrap Berbasis Riset

FAJARONLINE.CO.ID, SIDRAP - Kunjungan kerja Gubernur Sulsel, Prof Nurdin Abdullah melakukan kunjungan kerja ke Sidrap, Rabu (21/11/2018)....
 

FOTO; Diageo Bar Academy D'Liquid Cafe

  BAGI ILMU. Ambasador Diageo,Wawan Kurniawan berbagi Ilmu dengan para bartender  yang ada di Kota Makassar dalam acara  Diageo Bar...
 

Kritik Tajam

Pakar komunikasi membahas Leadership Communication, ditulis Deborah J. Barrett (2014), mengungkapkan; bahwa pemimpin yang memiliki komunkasi efektif...
 

Istri Danny Pomanto Lantik Ketua TP PKK Kecamatan se-Kota Makassar

FAJARONLINE.CO.ID, MAKASSAR -- Ketua TP PKK Kota Makassar, Indira Jusuf Ismail mengaku bangga kepada seluruh kader PKK se-Kota Makassar. Pasalnya,...
 

Bakal Kembangkan Wisata Halal, Pemkot Parepare Kaji Ulang Izin Diskotik

FAJARONLINE.CO.ID, PAREPARE-- Pemkot Parepare bersolek menjadi kota destinasi wisata halal. Izin diskotik dan tempat hiburan malam (THM) mulai dikaji...
 

Dekati Akar Rumput, Bob Wahyudin Blusukan Sehat Keliling Lorong

FAJARONLINE.CO.ID, MAKASSAR --- Berbekal beberapa box obat, peralatan dan tim medis, Dokter Spesialis Anak dan Konsultan Penyakit Napas/Paru Anak,...
 

Mobil Bergoyang, Saat Diperiksa Ternyata Ada Mahasiswi Nyaris Tanpa Busana

FAJARONLINE.CO.ID, SUNGGUMINASA --Seorang mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Makassar kedapatan berbuat zina dengan seorang pria yang sudah...
 

Serangan Bom Bunuh Diri Saat Maulid, 50 Orang Tewas

FAJARONLINE.CO.ID,INTERNASIONAL--Peringatan Maulid Nabi di Afghanistan diwarnai aksi teror. Lebih dari 50 orang pada Selasa (20/11) tewas dengan...
 

Akhirnya, Angel Lelga Lapor Balik Vicky Prasetyo

FAJARONLINE.CO.ID,JAKARTA -- Angel Lelga akhirnya melaporkan suaminya, Vicky Prasetyo, ke Polda Metro Jaya. idamping kuasa hukumnya, I Nyoman...
 

Gading-Gisel Tak Perebutkan Hak Asuh Gempi

FAJARONLINE.CO.ID,JAKARTA -- Kendati rumah tangga pasangan selebriti, Gading Marten dan Gisella Anastasia berada di ambang perpisahan karena...
 

85 Ribu Anak di Yaman Tewas Karena Kekurangan Gizi

FAJARONLINE.CO.ID,INTERNASIONAL--Diperkirakan 85.000 anak di bawah usia lima tahun telah meninggal antara April 2015 dan Oktober 2018 karena...
 

Kunker ke Sidrap, Nurdin Abdullah Ingin Jaga Predikat Lumbung Pangan

FAJARONLINE.CO.ID, SIDRAP--Gubernur Sulsel, Prof Nurdin Abdullah melakukan kunjungan kerja ke Sidrap, Rabu (21/11/2018). Ini merupakan kunjungan...
 

FOTO: Peluncuran Buku Gestapu 65 dan Ini Bukan Kudeta

Prof Salim Haji Said berbicara pada peluncuran buku Gestapu 65 dan Ini Bukan Kudeta, di studio mini redaksi Harian FAJAR, Graha Pena, Makassar,...
 

Tak Dapat Dukungan Sekolah, SMAN 3 Enrekang Tunjukkan Prestasi

FAJARONLINE.CO.ID, ENREKANG--Bakat dan hobi yang terus ingin dikembangkan para pungawa Basket SMAN 3 Enrekang akhirnya menunjukkan prestasi. Meski...
 

Urus Izin Penelitian di Parepare, Cukup Diakses via Website Sindali

FAJARONLINE.CO.ID, PAREPARE--Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Badan Perencanaan Daerah (Bappeda) Kota Parepare meluncurkan inovasi...
 

BIN Dianggap Bikin Kegaduhan Baru

FAJARONLINE.CO.ID,JAKARTA--Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menilai, BIN telah bekerja di luar kewenangannya. Seharusnya, lembaga intelijen...

Load More