Fajar

  Breaking News

Kekuasaan Mencari Orang Vs Orang Mencari Kekuasaan

FAURIZAH Peneliti Sosial Politik dan Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Unhas
Opini - 19 April 2017, 12:08:28

“Kami menjunjung ke atas batok kepala, janjiku (hai) orang banyak, kami tempatkan di dalam rumah keemasan, kemuliaan janjiku ketika engkau bersatu padu, menerima kami sebagai rajamu.” To Manurung

Dahulu di Sulawesi Selatan dikenal mitos To Manurung atau orang yang turun (dari khayangan?) Lontara melukiskan To Manurung sebagai manusia luar biasa yang tiba-tiba muncul di muka bumi dan tidak diketahui asal kedatangannya.

Kemudian, karena keluarbiasaan yang ditunjukkan maka rakyat melalui utusan atau wakilnya meminta To Manurung menjadi raja. Dari mitos tersebut, lahirlah sikap bahwa bukanlah calon penguasa atau calon pemimpin yang harus aktif berkampanye untuk memperoleh kekuasaan, tetapi sebaliknya calon penguasa itu harus tenang saja, dan rakyatlah yang seyogyanya memintanya untuk menjadi penguasa.

Supaya hal itu terjadi, seorang calon penguasa harus memiliki berbagai kelebihan luar biasa (dalam tradisi lama dikenal sebagai konsep sakti). Kesaktian itu akan melahirkan kharisma yang memancar dalam diri calon pemimpin. Hal ini menimbulkan konsekuensi logis bahwa kekuasaan itu harus paternalistik dan kharismatik.

Kultur tersebut juga mendapat kekuatan dari agama. Dalam agama Islam misalnya, terdapat suatu pandangan bahwa kekuasaan (dan rezeki), adalah anugerah Ilahi yang akan datang dengan sendirinya kalau syarat-syaratnya dipenuhi, sehingga kekuasaan harus dipandang sebagai amanah-Nya.

Justru itu ajaran Islam sebagai rujukan politik akan melahirkan budaya dan perilaku politik yang agak pasif terhadap kekuasaan, karena sangat diyakini Tuhan memberi atau mencabut kekuasaan kepada siapa saja yang Tuhan kehedaki.

Hal itu merupakan bentuk pengejawatahan dari sila Ketuhanan YME dalam Pancasila. Kekuasaan tidak boleh diperebutkan secara berlebihan (ambisius), apalagi dengan cara yang tidak bermoral.

Budaya politik yang pasif terhadap kekuasaan tersebut, juga terdapat dalam tradisi ilmiah yang dikembangkan para teknokrat dalam politik Indonesia selama masa 1967-1999 (orde baru). Kaum teknokrat adalah orang yang pada dasarnya bersikap menunggu, untuk ditunjuk dalam menduduki suatu jabatan karena keahlian dan kompetensi yang dimiliknya.

Dalam sistem politik demokrasi pancasila, saat itu dikenal juga dengan nama politik birokratik-teknokratik yang sangat bersifat apolitics dan apopulis. Budaya politik yang memengaruhi komunikasi politik tidak boleh melakukan manuver dalam bentuk kampanye, agitasi, dan propaganda politik.

Sebab itu, karakteristik politik orde baru masa itu diterima dan sangat didukung para elite dan masyarakat sebagai suatu solusi untuk memperbaiki kehidupan ekonomi dan menciptakan stabilitas politik, dan memantapkan ideologi Pancasila sebagai ideologi negara.

Konsep To Manurung atau mandatris atau kekuasaan yang mencari sudah tertelan perjalanan sejarah, gagasan vital dan pola pikir generasi dan elite baru yang pada umumnya berpendidikan model Barat, sangat “terpikat” terhadap budaya politik dan komunikasi politik yang lebih bebas melahirkan konsep orang yang mencari kekuasaan.

Dalam upaya menciptakan citra politik dan opini publik yang positif, maka setiap kandidat harus aktif melakukan komunikasi politik dalam bentuk lobi, kampanye, pemasaran, propaganda, agitasi, public relation, retorika politik, serta periklanan politik melalui media massa. Semuanya bertujuan merayu atau membujuk rakyat agar memberikan suaranya dalam memenangkan persaingan dengan biaya yang sangat besar.

Sepanjang sejarah terjadinya pemilihan langsung, komunikasi politik yang dilakukan dalam jangka pendek atau dalam masa kampanye saja, ternyata mendorong lahirnya “budaya instan” dan “orientasi pasar gelap (black market)” terutama menjelang pemungutan suara. Dalam “pasar gelap” itu terjadi “transaksi politik” atau “jual beli suara” yang dikenal sebagai “politik uang (money politics) yang terjadi secara pribadi dan massal, tetapi sangat sulit dibuktikan secara hukum.

Rakyat Indonesia yang masih banyak dililit kemiskinan, kurang pendidikan, dan kurang informasi sangat rentan terhadap money politics. Dalam “pasar gelap” politik dapat merusak mental dan akhlak rakyat dan pemimpin secara massal atau berjemaah.

Tidak dapat dipungkiri, sikap “aktif mencari kekuasaan” mendorong terjadinya politik transaksional, yaitu upaya memeroleh kekuasaan dengan menggunakan uang. Sebab itu, tidak mengherankan jika yang terpilih adalah kandidat yang memiliki banyak uang namun tidak memiliki kompetensi.

Hal ini dampak negatif dari sikap “aktif mencari kekuasaan.” Sebagai subjek dari aplikasi sistem pemilihan langsung, kita harus banyak belajar menjadi bangsa yang maju, semua dimulai dari menghadirkan seorang pemimpin yang tidak hanya dengan visi besarnya, tetapi juga memiliki kepemimpinan yang kuat, manajerial yang professional, dan keteladanan dalam banyak hal. (*)

Author : rika


Download Aplikasi Android dan IOS Fajaronline

 


Tags



Berita Lainnya

🔀Berita Terkini
 

Visi-Misi Punggawa Macakka Lengkap, Perbaikannya hanya Susunan Format KPU

FAJARONLINE.CO.ID, MAKASSAR - Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Sulsel Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar (IYL-Cakka) memastikan visi-misinya...
 

Kembali Tahan Warga Palestina, Total 6.500 Orang Telah Dipenjarakan Israel

FAJARONLINE.CO.ID -- Tentara Israel menahan 19 warga Palestina di wilayah pendudukan Tepi Barat, Kamis (18/1/2018). Militer Israel...
 

Perkosa Nenek 90 Tahun, Pemuda Dipenjara 30 Tahun

FAJARONLINE.CO.ID, CHAMPAIGN—Seorang pemuda berusia 24 tahun, Dontrell Netter divonis penjara 30 tahun oleh pengadilan di Illinois, Amerika...
 

Bawaslu Sulsel Ikut Awasi Pelaksanaan Coklit KPU

FAJARONLINE.CO.ID, MAKASSAR -- Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sulawesi Selatan menggelar bimbingan teknis (Bimtek) kepada Panitia Pengawas Lapangan...
 

Pakai Kapak dan Molotov, Remaja Serang Sekolah dan Lukai Tujuh Orang

FAJARONLINE.CO.ID, BURYATIA—Remaja bernama Anton Bichivin yang berusia 15 tahun menyerang sekolah di Sosnovy Bor, Buryatia, Siberia....
 

Mantan Pemain Real Madrid Pilih Merumput di Indonesia Karena Mayoritas Muslim

FAJARONLINE.CO.ID -- Borneo FC akhirnya secara resmi mengikat eks pemain Real Madrid, Julien Faubert selama semusim. Faubert sendiri...
 

Sarifuddin Klaim DPD Hanura Sulsel Dukung Hasil Munaslub, Affandy: Kami Solid ke OSO

FAJARONLINE.CO.ID, JAKARTA -- Kekompakan dan loyalitas DPD dan DPC sangat menentukan dalam menyikapi konflik internal yang menerpa Partai...
 

Beasiswa PIP Dipotong di Enrekang, Begini Klarifikasinya

FAJARONLINE.CO.ID, ENREKANG -- Beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP) juga sudah menyentuh berbagai wilayah di Kabupaten Enrekang. Sayangnya,...
 

Soal Periksa Ijazah Kandidat, Kalau Bersih Kenapa Mesti Takut...

FAJARONLINE.CO.ID, MAKASSAR -- Limitasi persyaratan ijazah SMA bagi kandidat di Pilkada, khususnya di Pilgub Sulsel terus mendapat sorotan. KPU...
 

BPN Lutra Blokir Rekening Warga Senilai Rp700 Juta, Ada Apa...

FAJARONLINE.CO.ID, MASAMBA -- Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Luwu Utara saat ini telah melakukan proses ganti rugi lahan kepada warga...
 

DPRD Luwu Belajar Keuangan di Gowa

FAJARONLINE.CO.ID, GOWA -- Anggota DPRD Kabupaten Luwu melaksanakan studi banding terkait Ranperda Pengelolaan Keuangan di Kabupaten Gowa, Jumat, 19...
 

Komisi IV: Ada Permainan Mafia di Balik Kebijakan Impor Beras

FAJARONLINE.CO.ID, JAKARTA -- Komisi IV DPR RI masih mempertanyakan keputusan pemerintah melakukan kebijakan impor beras. Anggota Komisi IV DPR...
 

Bawaslu Sulsel Perkenalkan Jenis Pelanggaran Berkategori Terstruktur, Sistematis, dan Masif

FAJARONLINE.CO.ID, MAKASSAR -- Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sulsel menyosialisasikan tata cara penanganan pelanggaran terstruktur, sistematis, dan...
 

Pemerintah Pusat Bakal Impor Beras, Takalar Malah Bagikan 20 Ton Beras Gratis

FAJARONLINE.CO.ID, TAKALAR -- Jika pemerintah pusat ketakutan kehabisan stok beras hingga membuat kebijakan impor beras, tidak demikian di...
 

Unit Diklat PLN Belajar Media Relation di Redaksi FAJAR

FAJARONLINE.CO.ID, MAKASSAR -- Unit Diklat (Udiklat) PLN Makassar bertandang ke Redaksi Harian FAJAR Makassar, Jumat, 19 Januari. Tujuannya,...
 

Astaga... Dalam Setahun, 950 Pasangan Nikah Siri di Bone

FAJARONLINE.CO.ID, BONE -- Kasus pernikahan siri di Kabupaten Bone terbilang tinggi. Selama setahun, ada 950 pasangan dikategorikan menikah...
 

Subhanallah... Polisi di Enrekang Jago Mengaji, Tausiyah Rutin Dua Kali Sepekan

FAJARONLINE.CO.ID, ENREKANG -- Polisi tidaklah identik dengan wajah yang garang dan sangat menakutkan. Buktinya, mereka juga masih bisa...
 

Leganes Ingin Balas Madrid di Bernabeu

FAJARONLINE.CO.ID, LEGANES—Kalah 0-1 dari Real Madrid di leg pertama babak delapan besar Copa del Rey tak membuat Leganes menyerah. Mereka siap...
 

Ratusan Legislator Berjuang Menangkan NH-Aziz Hingga Titik Darah Terakhir

FAJARONLINE.CO.ID, MAKASSAR -- Peta kekuatan pasangan calon pada Pemilihan Gubernur Sulsel 2018 mulai terbaca. Dari empat kandidat, pasangan...
 

Mahasiswa FKIP UIM Pelatihan Guru Bahasa Inggris

FAJARONLINE.CO.ID -- Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris atau Association Of English Education Students (ASEEt) Fakultas Keguruan...
 

Kritik Kepolisian Soal Kasus Novel, Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Dipanggil Polisi

FAJARONLINE.CO.ID -- Ketua PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak, tiba-tiba mendapat surat panggilan dari aparat...
 

Hati-hati... Penipu Manfaatkan Mutasi Pejabat untuk Beraksi, di Maros Nyaris Ada Korban

FAJARONLINE.CO.ID, MAROS -- Nama Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Maros, Muhammad Alwi, dicatut oleh oknum kat bertanggung jawab. Kasus...
 

Kubu OSO Siapkan Sanksi PAW Legislator Pendukung Munaslub

FAJARONLINE.CO.ID, JAKARTA -- Kubu Oesman Sapta Odang (OSO) siap memberi sanksi kader yang secara terang-terangan mendukung dan hadir pada musyawarah...
 

Dituduh Jual Kantor Desa, Kades di Mamuju Laporkan Warganya ke Polisi

FAJARONLINE.CO.ID, MAMUJU -- Saat ini merupakan era digital, di mana mayoritas masyarakat kerap memublikasikan kegiatan atau informasi melalui media...
 

Akmal Pasluddin: Kebijakan Impor Beras Sangat Merugikan Petani

FAJARONLINE.CO.ID, JAKARTA -- Rencana pemerintah melakukan impor beras mendapat penolakan keras dari anggota DPR RI, Andi Akmal...

Load More